Hasil Quick Count Risma-Bambang DH Unggul dengan 38,26 Persen Suara

SURABAYA – Pasangan Tri Rismaharini-Bambang Dwi Hartono hampir pasti menjadi pemenang pilwali. Berdasar hasil penghitungan cepat (quick count) sejumlah lembaga, pasangan nomor urut 4 itu menduduki peringkat teratas.

Salah satunya dirilis Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang bekerja sama dengan Jaringan Isu Publik (JIP). Pasangan Risma-Bambang unggul dengan perolehan suara 38,26 persen. Urutan kedua ditempati pasangan Arif Afandi-Adies Kadir (Cacak) yang memperoleh 35,38 persen. Selisih keduanya hanya 2,88 persen.

Meski demikian, LSI belum bisa menyatakan siapa pemenang dalam quick count tersebut. ”Secara angka, pasangan nomor 4 memang unggul. Namun, secara akademis kami belum bisa memastikan. Sebab, ada margin error dua persen,” terang Direktur LSI Arman Salam pada jumpa pers di Hotel JW Marriott kemarin (2/6).

Hasil quick count tersebut berbeda jauh dengan hasil survei dukungan yang pernah dirilis LSI dalam bentuk advertorial Cacak di Jawa Pos edisi Sabtu, 29 Mei 2010. Saat itu, LSI menyebutkan bahwa Cacak mendapat dukungan paling tinggi. Di bawah Cacak adalah pasangan Risma-Bambang dengan selisih 18,5 persen.

Mengapa hasil survei LSI bertolak belakang dengan hasil quick count? Arman tidak menjelaskan alasannya. ”Ya memang selisihnya sebesar itu. Survei tersebut kan dilakukan seminggu sebelum pencoblosan,” tuturnya.

Pasangan lain dianggap tidak memiliki kesempatan untuk menang. ”Hanya pasangan nomor 3 dan 4 yang bisa dipastikan menang. Saya percaya dengan kualitas KPU. Mereka lebih jujur dan netral sehingga datanya valid dan sesuai dengan pilihan masyarakat,” terangnya.

Metodologi quick count, menurut Arman, menggunakan multistage random sampling. Pengambilan sampel TPS dilakukan secara acak. Caranya, mengambil 350 sampel TPS yang tersebar di berbagai wilayah. ”Kami tidak hanya terkonsentrasi di kecamatan dan basis tertentu. Kami tidak asal comot,” jelasnya.

Menurut Arman, sampel 200 TPS sudah merepresentasikan keseluruhan TPS. LSI mengambil 350 TPS supaya kevalidan hasil survei lebih teruji. Sebanyak 350 TPS itu merepresentasikan 4.898 TPS. ”Pada pilpres yang jumlah TPS-nya lebih dari dua juta, kami hanya mengambil sampel seribu TPS,” katanya. Dengan demikian, dia bisa mempertanggungjawabkan validitas quick count tersebut.

Dia menyatakan, dengan tipisnya selisih antara perolehan suara pasangan nomor 3 dan 4, terjadinya gejolak harus diwaspadai. Perlu kejujuran dalam penghitungan manual di KPU. Bagaimanapun, KPU berhak mengumumkan perolehan suara yang sah.

Arman mengungkapkan, ketatnya persaingan antara pasangan nomor 3 dan 4 terjadi karena mereka adalah pasangan incumbent. Arif merupakan wakil wali kota. Bambang adalah wali kota. “Meski mereka mencalonkan diri sebagai wakil wali kota, masyarakat Surabaya masih resistan terhadap perubahan,” katanya.

Divisi Riset JIP Astro Simamora menyatakan, pasangan Risma-Bambang unggul di zona 1, 3, dan 4. Cacak unggul di zona 2 dan 5. Zona 1 meliputi Kecamatan Simokerto, Bubutan, Genteng, Gubeng, dan Tegalsari. Zona 2 adalah Pabean Cantikan, Bulak, Kenjeran, Tambaksari, dan Semampir. Zona 3 adalah Mulyorejo, Sukolilo, Rungkut, Gunung Anyar, dan Tenggilis Mejoyo.

Zona 4 meliputi Wonokromo, Dukuh Pakis, Wiyung, Sawahan, Gayungan, dan Wonocolo. Zona 5 adalah Karang Pilang, Lakarsantri, Sambikerep, Tandes, Sukomanunggal, Asemrowo, Benowo, dan Pakal.

Di bagian lain, tim pemenangan Risma-Bambang juga merilis hasil quick count (hitung cepat). Hasilnya, Risma-Bambang unggul telak dengan meraih 44,7 persen suara. Di bawahnya, ada pasangan Arif Afandi-Adies Kadir yang mendapat 31,7 persen saja.

Sementara itu, tempat ketiga diduduki pasangan Fandi Utomo-Yulius Bustami (Fu-Yu) dengan 12,4 persen. Selanjutnya pasangan Sutadi-Mazlan Mansur dengan raihan 6,4 persen. Posisi terakhir di­tempati pasangan Fitra-Naen dengan perolehan 4,8 persen suara.

Menurut Jagad Hariseno, ketua tim pemenangan Risma-Bam­bang bidang eksternal, hitung cepat yang dilakukan pihaknya mem­punyai margin error 5 per­sen. “Metode yang kami lakukan ada­lah pengam­bilan acak proporsional berdasar jumlah penduduk,” ujarnya.

Pria yang akrab dipanggil Seno tersebut mengatakan, jumlah TPS yang dijadikan sampel 300 di 31 kecamatan. “Jadi, metode hi­tung cepat kami bisa diper­tang­gungjawabkan secara ilmiah,” tandas Seno.

Menilik hasil hitung cepat sejumlah lembaga lain, Seno dengan tegas menyatakan bahwa pasangan Risma-Bambang secara de facto sudah memenangkan pilwali ini dengan satu putaran. “Memang belum ditetapkan dan kami akan terus mengawal semua proses rekapitulasi suara. Kami tidak ingin ada kecurangan sistematis yang terjadi dan mencuri ke­menangan kami,” tegasnya.

Untuk itu, Seno juga berharap ke­pada masyarakat agar ikut mengawasi proses rekapitulasi hingga tuntas. “Sebab, keme­nangan ini adalah kemenangan rak­yat. Sehingga tentu saja tak akan bisa dicuri dengan cara cu­rang macam apa pun,” tuturnya.

Sementara itu, kemenangan Risma juga tampak dari hasil real count yang dilakukan kubu Fu-Yu. Menurut tim real count Fu-Yu bersama smsPILKADA.com, pasangan Risma-Bambang meraih 39,54 persen, sedangkan Cacak 34,19 persen. Sampai pukul 19.34, surat suara sah yang masuk sebanyak 445.576.

Pasangan Risma-Bambang juga unggul menurut hasil laporan warga yang disampaikan melalui Radio Suara Surabaya dan Jawa Pos. Berdasar data terakhir yang masuk pukul 20.05, Risma-Bambang meraih 35.072 suara atau 44,42 persen. Sementara itu, Cacak hanya mendapatkan 31,92 persen dengan jumlah 25.203 suara.

Pakar statistik ITS Kresnayana Yahya menuturkan, berdasar penghitungan proporsi yang ada, pasangan calon nomor urut 3 (Cacak) akan sulit menyusul perolehan sementara tersebut. Di antara total 361 TPS yang melaporkan, pasangan nomor urut 4 (Risma-Bambang) unggul di 250 TPS. Itu berarti Risma-Bambang mendapatkan sekitar 70 persen suara. ”Kalaupun bisa mengejar, paling tidak hanya bisa bergeser sekitar satu persen,” ujar Kresnayana. Padahal, pasangan nomor 3 membutuhkan 12 persen untuk menyusul pasangan nomor 4. ”Dan, kemungkinan itu amat kecil,” tuturnya.

Pasangan Arif Afandi dan Adies Kadir (Cacak) belum puas atas hasil pemungutan suara kemarin. Pasangan nomor tiga itu meminta KPU menghitung ulang surat suara yang kini terkumpul di 31 kecamatan. Mereka beralasan, banyak surat suara dengan coblosan dobel yang dikatakan kelompok penyelenggara pe­m­u­ngut­an suara (KPPS) sebagai suara tak sah.

Berdasar temuan tim pemenangan Cacak, di Kecamatan Tambaksari saja, setidaknya tercatat 4.911 suara yang dinyatakan tidak sah karena kasus coblosan dobel. Total suara sah secara umum di kecamatan itu 39.615 suara.

Tim pemenangan Cacak mengklaim sebagian besar suara tersebut adalah pemilih Cacak. Surat suara itu dinyatakan tidak sah oleh petugas karena dalam satu surat suara ada dua coblosan, meskipun masih dalam satu kolom pasangan cawali-cawawali.

Padahal, dalam surat tertanggal 25 Mei yang diteken Ketua KPU Pusat Abdul Hafiz Ansyari, bila dalam surat suara ada kasus seperti itu, suara dinyatakan sah. KPU Surabaya juga membolehkan coblosan dobel dalam satu kolom dalam surat tertanggal 27 Mei. Namun, sejumlah informasi menyebutkan bahwa surat KPU Surabaya itu baru sampai kepada ketua KPPS pada 1 Juni lalu.

Dengan fakta tersebut, anggota tim advokasi hukum pasangan Cacak meminta otoritas penye­lenggara pemilu Surabaya itu menghitung ulang. ”Mulai malam ini juga harus dilaksanakan,” tegas anggota tim advokasi hukum pasangan Cacak, Abdul Salam, kemarin.

Tim advokasi hukum Cacak yang lain, Saiful Maarif, menduga bahwa frekuensi sosialisasi terkait coblosan dobel tersebut sangat kurang. ”Kurangnya sosialisasi itu mengakibatkan pemilih tidak tahu,” jelasnya.

Abdul Salam menambahkan, bila KPU tidak segera merespons permintaan penghitungan ulang, pihaknya akan melayangkan gugatan sengketa pemilihan kepala daerah (pemilukada) ke Mahkamah Konstitusi. ”Kami akan melakukan upaya hukum bila tak ditanggapi,” tegasnya.

Pada bagian lain, tim peme­nangan Fandi Utomo tidak pesi­mis­tis meski sejumlah quick co­unt menempatkannya dalam po­sisi ketiga. Mereka tetap optimistis bakal mendapatkan hasil yang jauh lebih baik dari quick count itu. Sebab, dari sudut pandang tim Fu-Yu, quick count tersebut tidak sepenuhnya bisa dijadikan pegangan. Apalagi, di antara 4.989 TPS, yang dijadikan sampel hanya 350 TPS.

”Hasil quick count bukan sesuatu yang final. Sangat terbuka adanya perbedaan yang sangat mencolok. Apalagi, belum semua TPS masuk dalam hitungan. Kami masih yakin mendapat hasil lebih baik,” kata Budi Harjanto, ketua tim sukses Fu-Yu.

Keyakinan tersebut juga didasarkan pada data-data yang mulai dikumpulkan tim sukses Fu-Yu. ”Dari laporan yang masuk ke kami, ada banyak TPS yang dimenangkan pasangan Fandi-Yulius Bustami. Karena itu, kami masih optimistis,” ujarnya.

Sembari menunggu hasil rek­a­pi­tulasi KPU, tim Fu-Yu juga terus meng­hitung. Data-data dari para saksi yang ditempatkan di masing-masing TPS terus direkap. ”Peng­hitungan dilakukan teman-teman dari PKS. Kami masih menunggu hasilnya. Sebab, mereka masih menghitung dari tingkat terbawah,” tutur Budi. (tim jp/c5/c6/c9/c12/oni)

http://www.jawapos.com/metropolis/index.php?act=showpage&kat=1&subkat=20

Leave a Comment